Sunday, March 19, 2017

KONSEP MOL (Dasar, MAP Volume,Massa,Jumlah Partikel, Molaritas dihubungkan dengan Mol)

Mol merupakan salah satu satuan dalam kimia. 1 mol = 6,02 x 10^23 partikel

Hubungan antara mol, massa, volume, Molaritas bisa digambarkan dalam map berikut ini:


Map tersebut bertujuan untuk mempermudah kita dalam mengingat konsep mol. Dimana dalam map sendiri terdiri dari:
1. Panah = arah panah menunjukan hasil yang diinginkan sedangkan pada ujung belakang panah merupakan data - data yang kita milliki dimana data ini terpusat pada mol maupun sebaliknya (tergantung ujung panah nya dimana).
2. Disini yang kita pakai adalah satuan mol dimana satuan mol ini ekivalen atau setara dengan gram dan liter. Namun jika yang kita miliki adalah data mili mol (mmol) maka akan ekivalen atau setara dengan miligram, mili liter. Dan seringkali ini akan mengecoh kita dalam perhitungan, karena lalai dalam memperhatikan satuannya.
3. Jumlah Partikel tidak memiliki satuan. Jumlah partikel sendiri merupakan suatu tetapan avogrado (L) yang bernilai 6.02 x 10^23
4. Untuk volume ada bilangan tetap yaitu 22.4 Liter/mol dengan syarat kondisi STP ( Standard Temperature And Pressure) harus 0 derajat Celcius atau 273 derajat Kelvin dan 1 atm. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang perhitungan volume, akan dibahas dipostingan selanjutnya yaa :)
5. Sama dengan jumlah partikel, massa atom relatif (MR) juga tidak memiliki satuan. Massa molekul relatif sendiri merupakan jumlah massa atom relatif (Ar) yang terdapat dalam rumus kimia suatu zat.

Monday, February 20, 2017

QnA

Jika ada yang ingin menanyakan pertanyaan dan ingin menjadi artikel selanjutnya yang akan dibuat,  silahkan berkomentar di artikel ini..  Terimakasih :)) 

Friday, February 26, 2016

Metode – Metode Menghilangkan Kesalahan Dalam Suatu Analisis


Dalam suatu analisis seringkali terdapat kesalahan dalam prakteknya. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang tepat untuk menghilangkan atau mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi dalam suatu analisis.
Sebenarnya,  dalam upaya untuk menghilangkan dan mengurangi kesalahan dalam analisis diperlukan pengetahuan yang cukup untuk memilih metode yang tepat. Karena setiap metode sendiri sudah diatur penggunaannya dalam analisis.  Oleh karena itu berikut saya akan uraikan metode  - metode tersebut sehingga akan lebih mudah diketahui oleh anda penggunaanya:

  1. Kalibrasi Alat Dan Koreksi
Kalibrasi Alat biasanya dilakukan baik pada peralatan gelas maupun peralatan instrumen. Pada peralatan gelas terdapat aturan sendiri  untuk mengkalibrasi alat tersebut sedangkan pada kalibrasi alat instrumen biasanya kalibrasi sudah terdapat adalam aturan penggunaan alat instrumen tersebut. Kalibrasi pada alat ukur gelas digunakan utuk menghindari kesalahan volume maupun massa apada kondisi tertentu sehingga diperlukan suatu kalibrasi yang digunakan untuk menentukan volume maupun massa sebenarnya yang terdapat pada alat untuk lebih jelasnya akan saya jelaskan mengenai kalibrasi alat ukur gelas pada postingan selanjutnya. Kalibrasi pada alat instrumen digunakan untuk menghindari kesalahan pengukuran yang diakibatkan oleh kerusakan alat.
  
2.  Penetapan Blanko 

Selain oleh kesalahan alat, kesalahan juga bisa disebabkan oleh reagen atau pelarut yang digunakan dalam analisis. Contoh dari kasus ini adalah bila kita ingin menentukan konsentrasi Cl- dalam suatu larutan akan tetapi karena dikhawatirkan Cl- yang terdapat dalam larutan banyak, maka dilakukan pengenceran terlebih dahulu untuk menentukan Cl- karena alat yang digunakan untuk menentukan kadar Cl- sendiri rangenya terbatas dan kecil (tidak bisa mengukur Cl- dalam konsentrasi tinggi). Maka kita akan mengencerkan sampel yang mengandung Cl- menggunakan pelarut misal  aquadest. Ternyata aquadest yang kita gunakan mengandung Cl- maka dari sini kita bisa simpulkan bahwa Cl- yang kita dapatkan  nantinya bahwa hasil pengukuran yang didapatkan  (yang telah diencerkan dengan aquadest) tidak akurat hasilnya, karena bertambah kandungan Cl- nya dari aquadestnya. Oleh karena itu digunakanlah blanko yang berfungsi untuk mengetahui Cl- yang terdapat dalam pelarut (misal aquadest)  + reagen ( tanpa sampel). Dengan begitu kita simpulkan bahwa analisis dilakukan terhadap:
1.       Reagen + Pelarut (Blanko)
2.       Sampel + Reagen + Pelarut

Biasanya metode ini digunakan oleh alat-alat instrumen seperti spektrofotometer. Oleh karenanya tidak aneh jika kita menggunakan alat spektrofotometer harus mengukur blankonya terlebih dahulu baru pengukuran sampel.

Pada pengukuran blanko kita tidak akan mendapatkan konsentrasi blanko pada alat melainkan menstandarkan alat bahwa larutan blanko tersebut nilainya 0, sehingga pada saat pengukuran sampel yang  terjadi adalah otomatis konsentrasi yang didapatkan adalah pengurangan antara konsentrasi zat total yang terukur dengan konsentrasi zat pada blanko. Lalu dapat disimpulkan diakhir bahwa konsentrasi zat yang didapatkan merupakan konsentrasi zat pure dari sampel (tanpa ada tambahan dari pengaruh kandungan pelarut maupun reagent.
Selain alat – alat instrumen ada juga penggunaan blanko diterapkan dalam analisis titrimetri.. Hayoo ada yang tau ga? Coba ingat-ingat

3. Penetapan Pengawasan 

Agak sulit sebenarnya menjelaskan yang satu ini, tapi saya akan coba menjelaskannya.. Semoga mengerti J
Jadi pada penetapan pengawasan dilakukan pada kondisi seidentik mungkin menggunakan standar. Dan pada analisis ini digunakan standar dimana  konstituen atau kandungan yang diukur pada sampel sama dengan standar. Untuk lebih jelasnya saya akan menggunakan contoh:

Suatu standar x jika dipipet 10 mL dan ditirasi dan didapat hasil volumenya 5 mL maka dapat disimpulkan bahwa kandungan z yang terdapat pada standar adalah 1000ppm. Oleh karena itu dipipetlah suatu sampel a sebanyak 10 mL ( bobot  antara sampel dan standar harus sama) menghasilkan volume 2 mL . Maka akan didapat kandungan z yang terdapat dalam sampel dengan rumus:
                5 mL                                                       =             1000 ppm
                2 mL                                                       =             x
                5 mL . x                                                 = 1000 ppm. 2 mL
                                X                                             = 2000 ppm .mL : 5 mL
                                X                                             = 400 ppm
Nah kira – kira seperti itu contoh penetapan pengawasan.
Untuk selanjutnya ada metode – metode lain dalam upaya mengurangi / memperkecil kesalahan yang akan dibahas di Part 2 hehe... 

4   Analisis Tak Bergantungan (Part 2)
5.       Penetapan Paralel (Part 2)
6.       Adisi Standar (Part 2)
7.       Standar Internal (Part 2) 
8.       Metode Amplifikasi (Part 2)

Wednesday, October 14, 2015

MACAM - MACAM KESALAHAN /SESATAN/ERROR (Analysis Kimia)



Dalam melakukan suatu analisis, seringkali terdapat berbagai macam kesalahan yang menyebabkan timbulnya perbedaan hasil dari yang seharusnya. Kesalahan hasil eksperimen dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
a.       Kesalahan tertetapkan (Determined)
b.      Kesalahan tidak tertetapkan (indetermined)
Nah untuk lebih jelasnya, saya akan menguraikan tiap-tiap macam – macam kesalahan:
A.      Kesalahan Tertetapkan (Constant/Determined error)
Merupakan kesalahan yang dapat dihindari atau besar kesalahannya sendiri dapat ditetapkan. Biasanya kesalahan ini berupa:
1.       Kesalahan Operasional (Pribadi)
Jadi kesalahan ini biasanya disebabkan oleh pribadi dan tak ada hubungannya dengan kesalahan metode atau kesalahan prosedur. Contoh dari kesalahan ini diantaranya: Pencucian endapan yang kurang atau berlebihan, pemijaran endapan pada suhu yang tidak benar, penimbangan sesudah pendinginan pada eksikator padahal waktu pendinginan belum cukup, membiarkan bahan yang bersifat higroskopis mengabsorpsi air sebelum atau selam penimbangan, dan bisa juga dari penggunaan reagensia yang mengandung pengotor yang mengganggu, jika dalam titrasi contoh dari kesalahan ini yaitu salah pengamatan TA (salah penyimpulan titik akhir titrasi).
2.       Kesalahan Instrumen/Reagensia
Contoh dari kesalahan ini yaitu penggunaan reagensia yang mengandung zat-zat pengotor, maupun kesalahan dari segi instrumennya misalnya penggunaan alat-alat instrumen yang tak terkalibrasi, masuknya bahan-bahan asing kedalam zat yang dianalisis, neraca yang rusak dll. Contoh nyata dari kesalahan ini yang pernah saya alami adalah, penggunaan HCl untuk pelarutan sampel Ba2+ untuk ditentukan kadarnya menggunakan metode gravimetri, nah pada waktu itu saya dan teman-teman malah menggunakan HCl teknis padahal seharusnya digunakan HCl pa, dan alhasil harusnya sampel Ba2+ larut malah menjadi endapan putih. Mengapa hal ini bisa terjadi? Toh kan sama-sama HCl.
Inilah jawabannya, karena HCl teknis dibuat dengan mencampurkan H2SO4 pekat dengan NaCl sehingga terbentuklah HCl, nah yang membuat contoh kami mengendap adalah karena HCl teknis masih mengandung SO4 2- yang akan menyebabkan endapan putih tak larut dalam air dan asam klorida. Endapan putih tersebut adalah BaSO4, sedangkan yang seharusnya terjadi adalah BaCl yang berupa larutan bukan endapan.
3.       Kesalahan metode
Berbeda dengan kesalahan operasional, biasanya kesalahan metode diartikan sebagai kesalahan yang diakibatkan oleh kesalahan non personal (bukan kesalahan pribadi). Contoh dari keslahan ini antara lain reaksi yang tidak sempurna, keterlarutan endapan (endapan yang harusnya terbentuk malah larut), kopresipitasi, pospresitasi, terjadinya penguraian pada reaksi yang harusnya tidak terjadi, atau bisa juga terjadinya pengendapan zat-zat lain yang tak dikehendaki.
4.       Kesalahan aditif dan sebanding (proporsional)
Contoh kesalahan ini adalah kehilangan bobot dalam sebuah kurs, contohnya ketika kita memijarkan suatu zat maka akan ada suatu zat pengotor (yang merupakan kesalahan) menguap dan kita akan mengetahui berat zat yang sebenarnya. Maksud dari proporsionalitas disini dimana kesalahan akan terus bertambah jika zat yang kita pijarkan beratnya juga bertambah. Maka akan didapat dimana kesalahan ini akan linear dengan berat endapan


B.      KESALAHAN TAK TERTETAPKAN ( ACCIDENTAL/INTERMEDIATE ERROR)
Kesalahan ini merupakan kesalahan yang ditimbulkan dari kesalahan-kesalahan yang tak terkendali oleh analis dan umumnya begitu sulit dipahami dan karenanya tak dapat dianalisis.